Tampilkan postingan dengan label Observe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Observe. Tampilkan semua postingan
*Retno..*



Tadi ketika saya ke Kantor Urusan Agama Kecamatan Jekan Raya, didalam kantor ada beberapa ibu-ibu yang saya tak tahu siapa namanya.
tapi hanya ada seorang ibu yang cukup supel sedang mengobrol sana-sini menanyakan perihal kedatangan saya ke KUA tersebut.

Ibu tersebut memperhatikan dan mendekati saya yang sedari tadi cuma bengong menunggu giliran antri.
ini percakapan singkat saya sama si Ibu tadi :




Si Ibu  :   Ada keperluan apa ke KUA, de?? Kemarin nikah siri yaa??
Saya   :   *Gubraaaaaak.. sambil nyengir kuda*  Ga buu, saya belum nikah..
Si Ibu  :   Aah.. yang benar, belum nikah secara resmi kan yaa. ngaku aja de, nda apa-apa ibu juga begitu koq.
Saya   :   Iyaaa.. buu, saya belum nikah. kebetulan ada keperluan legalisir buku nikah punya kakak saya. *saya mulaaai sewot..*
Si Ibu  :   Ooh.. gitu yaa, sebenernya jujur juga ga masalah. toh nikah resmi itu biar enak ngurus akte lahir anak kita nanti. Hahahaa... *masih ngeyeeeell.. (sambil ketawa merayakan kemenangan)*
Saya   :   *cuma senyum..* (gemeeeees... sambil gigit sepatu)









 Regard's..



*Retno..*


Banyak orang membanggakan seragam.
Ada yg terlalu bangga dengan seragam lorengnya, merahnya atau
pisau komandonya.
Ada yg bangga dengan seragam kerjanya...

Diperusahaan tempat dia bekerja untuk posisi dia dengan seragam biru adalah level staff yg keren,
namun di lain perusahaan warna biru hanya untuk level operator.
Begitu juga untuk level supervisor keatas seragam biru donker dan abu2 adalah kebanggaan,
namun di perusahaan se-kawasan seragam tersebut hanya untuk class operator.

So, apa yg patut dibanggakan ?
Sudah banyak di negeri ini yg ketipu dengan seragam.







Kawan2ku…
Lihatlah dalam pikirannya
kalau bisa lihatlah hatinya
atau paling tidak…
lihat apa yg telah dikerjakan
itu adalah rekam jejak yg paling sahih
untuk memprediksi seseorang

Sahabatku..
Jadi jangan silau akan Seragam
Jangan mundur akan Pangkat
Jangan rendah diri akan tempelan lahiriah
Jangan sungkan karena cheque

Untuk urusan ibadah..
jangan berkecil hati
belum tentu yg dahinya sok hitam dan berjanggut
lebih baik nilai ibadahnya dari orang yg biasa
sombong sekecil apapun akan dapat perhitungan nantinya

Kemampuanmu
sejauh ini , sembunyikan..
jangan sampai zamrud2 kecil yg belum mekar dan tumbuh
kembang, ditelan habis burung merak
karena kecongkaan pemilik benih yg membuka diri
belum pada waktunya...

Intan yg terbuai dalam lautan lumpur hitam
Tak akan bisa menghapus keras dan kilaunya
Ikan yg bebas berenang dilautan
tak akan asin karenanya...

Semuanya tergantung amal dan hubungan dg khalik kita.
Semulia2 manuasia adalah yg paling taqwa/takut kepada sang khalik kita.









Regard's...





*Retno..*




Teman...
Terkadang, kita merasa lebih dewasa dan bijaksana dalam berkata-kata maupun bertindak. Kita menganggap orang lain, terutama sederajat atau di bawah kita, seperti pasangan atau pacar, anak kita, anak buah kita, seperti anak kecil walaupun usianya sudah menginjak dewasa.
Setiap gerak langkahnya selalu kita awasi. Bila salah sedikit, amarah sering muncul, walaupun bukan dalam hal prinsip. Kita ingin selalu melihat mereka seperti diri kita, padahal setiap orang punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri. lagipula setiap orang mempunyai keinginan yang tidak sama juga.


Sebagai teman atau sahabat, memang sudah selayaknya kita mengingatkan teman atau sahabat yang menurut kita kurang pantas. Namun bila terlalu sering, akhirnya malah menjadikan mereka antipati dengan kita. Sesekali mungkin masih bisa menerima masukan kita, namun lama kelamaan, apalagi untuk masalah yang sama, teman atau sahabat kita bisa jadi malah memusuhi atau menjauhi kita. Demikian pula dengan pacar atau pasangan kita. Terlalu sering menasehati malah dikira ingin mengatur kehidupan si dia, padahal belum tentu dia sepakat dengan nasihat kita.


Tidak semua bisa menerima nasihat dengan kepala dingin. Kadang-kadang Tuhanlah yang lebih kena untuk menasehati seseorang, dengan memberikan cobaan hidup yang akan selalu teringat di kepalanya. Istilahnya, ada orang yang bisa dinasehati dengan mulut, ada pula dengan pukulan baru terasa.
Jadi, biarkanlah dia menemukan jalannya sendiri. Toh.. bila suatu saat terantuk, kitalah yang akan menjadi tempat bertanya. Jangan pernah memaksakan kehendak, sekalipun sudah resmi berpasangan atau kepada anak kita sendiri. Cukuplah berikan pengertian, lalu biarkanlah dia berkembang sesuai dengan keinginannya sendiri, agar menjadi cepat dewasa.




Sumber : Artikel Bebas







Regard's...