*Retno..*



*Apa yang kau tunjukan di publik, itu yang orang pikirkan. setuju ga ya ??*
status FB dari salah satu friendlist FB ku, entah kenapa tanganku gatel ingin memberikan komentar. hehehee...


Well.. usually people will judge something the first time he or she saw.

Coba kita ambil satu contoh: ada seorang preman pasar tiba2 menolong seorang ne2k yang ingin menyebrang jalan.
apa yang orang pikirkan ?? otomatis 'Cover'nya c preman toh..
memang, apa yang kau tunjukan di public itu yang orang pikirkan....
Tapi, yang di pikirkan orang itu justru sering tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.
This in my opinion.......

Intinya, Jika kita mengenal seseorang hanya sepintas, hanya sedikit pula yang bisa kita gambarkan. Bahkan mungkin gambaran yang salah pun bisa muncul kalau hanya mendengar apa kata orang saja.
Tapi apabila kita mengenal seseorang sangat dekat, maka kita akan bisa memberikan gambaran yang lebih jelas dan benar mengenai mereka.

Lalu dia bertanya : *skrg gini Bu. Kalo dia sdh mengalami enakx dunia.. trus dia merubah diri tuk mencapai suatu willing na... Yakin G kira2 dia akan kembali lagi ke kebiasaan na yg enak itu... hayooo*


Manusia bisa berubah sejauh dia menyadari bahwa dirix memang tidak pernah tidak berubah, entah jadi lebih baik atau justru sebaliknya.
Niat baik datang dari hati yang baik, namun tidak selalu dari orang yang baik.
Orang yang sedang kurang baik pun ada masanya berhati baik, karena pada dasarnya kita manusia itu baik.
aku secara personally yakin kepribadian bisa berubah (& diubah dgn sengaja) seiring waktu serta perkembangan jiwa seseorang.
Hidup itu sangat dinamis & kadang menuntut kita untuk berubah baik kita menyadarinya atau tidak.



NB   :
" Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses. "
Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.



" Salah satu keyakinan yang paling 'Beracun' dalam hubungan antar manusia Adalah Keyakinan bahwa orang lain (kita) tidak bisa berubah "
- Aaron Beck, Psikolog -











Regard's...











*Retno..*



Tuhanku.. bentuklah puteriku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah.
Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut.
Manusia yang memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan, rendah hati dan jujur dalam kemenangan.


Bentuklah puteri ku menjadi seseorang yang kuat dan mengerti, bahwa mengetahui serta mengenal diri sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar.


Tuhanku.. janganlah puteri ku Kau bimbing pada jalan yan mudah dan lunak.
Biarlah Kau bawa dia ke dalam gelombang dan desak kesulitan tantangan hidup.
Bimbinglah puteri ku, supaya dia mampu tegak berdiri di tengah badai, serta berwelas asih kepada mereka yang jatuh.

Bentuklah puteri ku, menjadi manusia berhati bening dengan cita-cita setinggi langit. Seorang manusia yang sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum memimpin orang lain.

Seorang manusia yang mampu meraih hari depan tapi tak melupakan masa lampau.

Dan setelah segala menjadi miliknya
puteri ku dilengkapi hati yang ringan untuk bergembira
serta selalu bersungguh sungguh, namun jangan sekali-kali berlebihan.

Berikan kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan dan keagungan yang hakiki, pikiran cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan dari kekuatan yang sebenarnya

sehingga aku, orangtuanya, akan berani berkata: "hidupku tidaklah sia-sia"....











NB :
Notes bagus yang ditemukan penulis
saat iseng2 browsing,
sambil di iringi lagu ADA BAND - Yg Terbaik Bagimu (Ayah)












Regard's...






*Retno..*
 



“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya.

Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”


Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan padanya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”


Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal.
Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah… bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”





Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati.
Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat.
Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.














Regard's...